Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Januari 2015

Puisi dalam Film Tanah Surga.. katanya



Tanah Surga .. katanya 

Bukan lautan hanya kolam susu .. katanya.
Tapi kata kakekku, hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu.
 

Kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui .. katanya.
Tapi kata kakekku, ikannya diambil nelayan-nelayan asing.
 

Ikan dan udang datang menghampirimu .. katanya.
Tapi kata kakekku, ssstt.. ada udang di balik batu.
 

Orang bilang tanah kita tanah surga .. katanya.
Tapi kata dokter intel, yang punya surga cuma pejabat-pejabat.
 

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman .. katanya.
Tapi kata dokter intel, kayu-kayu kita dijual ke negara tetangga.
 

Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman .. katanya.
Tapi kata kakekku, belum semua rakyatnya sejahtera, banyak pejabat yg menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri.

Puisi dalam film "Tanah Surga .. katanya" ini sungguh membuat jantung berdengung tentang hakikat Kesejahteraan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia



Sabtu, 13 Desember 2014

Puisi tentang Harapan : Empat Purnama

Empat purnama

telah berjalan dan menyapa
Angin sepoi merajuk, hilang
Tersingkir hitam awan bergelombang
Burung-burung menggali sumurnya
akankah hujan telah datang, lagi
Dibinari matahari malu, aku berdiri
Aku menengadah
Datanglah malaikat pembawa cahaya
Jadikan masa berlari dulu
Biar kunikmati hujan cepat
Aku sudah tak berteriak
kaki berjalan saja
tangan masih menengadah
Meyakini bunga akan kembali merekah

08 Desember 2014 - 07.28 A.M

Puisi Kebimbangan : Manusia di Persimpangan

Manusia dipersimpangan
Tak tahu apa di seberang
Hanya bisa menerawang jauh
Haruskah dia ke peramal?
Hilang saja kau penat
Enyah dari kegaduhan pekat

Manusia dipersimpangan
Terbuang, jauh dari keramaian
Dia ingin kegaduhan
Bukan lagi kegaduhan pekat
Dia lelah dengan sepi
Dia masih senyi diatara nyanyian nuri

Manusia dipersimpangan
Tak tahu kapan harus berhenti
Terus berlari
Terkadang berjalan,
yang elok baginya adala terus berpindah
Entah jalan mana,
Dia tak akan pernah menoleh
ataupun berhenti

10 Desember 2014 - 07.53

Minggu, 22 September 2013

Puisi Tentang Pengabdian Ibu : Sadarkah Sang Anak?


Tuhan menciptakan, Tuhan menginginkan
Seorang wanita tua
Dia tak pernah tidur
Mulutnya tak akan pernah diam
Teliga dan hatinya tak pernah menutup
Tangannya lemah, tapi selalu menengadah
Ingatkah?
Ketika dia membelai halus rambutmu
"Nak bangun, sudah siang"
Tapi apa yang terlontar dari mulut manismu?
Sadarkah?
Ketika dia baru saja menghela nafas
Kau banting pintu yang dibeli dari keringat ayahmu
Hanya karena seragam sekolah yang tak licin oleh setrika
Itukah?

Puisi Cinta : Menjadi yang Menyayangimu

Jam dinding berdetik
Menunjukan waktu tanggal lahirku
Juga terdengar
Suara air jatuh dari genting atap rumahku
Aku terperanjak oleh anganku
Akankah ini terus berlanjut
Rasa, lebih dari yang kau kira
terus bertumbuh tanpa pupuk dan air darimu
Sesekali,
angin bertiup merusak suasana hatiku
menambah beku,
angin itu terus bertiup
terus memadamkan
Aku tak terpejam, aku terus berjalan
Untuk melihat lengkungan indah
diwajahmu. . .
Untuk terus menjadi yang menyayangimu
Untuk terus berharap
Kaulah calon imamku

Thanks uda baca :) maaf ya kalau kurang jelas, kurang menarik dan sebagainya, sama-sama belajarnya. Dan saya mengucapkan, tidak selalu yang tertulis adalah saya :)
More quotes at @auroraisaaa

Minggu, 20 Mei 2012

Detik Ini

Haii kawan :)
Ini aku buat puisi, mungkin cuma rangkaian kata ya Kawan, please advice for me :) reaksi ya !

Detik Ini


Detik ini sendiri
Dalam untaian duka
Merajut indahnya luka.. mungkin
Menebar benih cinta ?
Mencoba dewasa
Belajar merangkai beberapa kosa kata

Disaat sendiri..
Hanya berbicara dengan diri
"Apa guna aku? Aku tidak lain hanyalah beban untuk mereka"
Terkadang, suara setan turut serta
Saat terayu bualannya,tangan nan lembut melangkah
":Ah......., aku pasti kuat"
Sebuah pisau belati tengah menari-nari diraga bidadari cantik
Merah yang mengalir, seperti duka yang memancar
Sakit yang tertahan, bak jeritan yang terbungkam

Rabu, 14 Desember 2011

Sepi Lagi


Sepi itu...
Tak perlu sendiri tuk jadi sepi
Diam tak kunjung sepi jua
Hanya butuh satu kata tuk jadi sepi..hatimu..

Huft.. Sudahlah..
Ini tak akan berhasil
Menangis, meratap
Itukah hati hormat kita..
Bukankah semua sepi dan air mata
Hanya lalu..
Hanya coretan tinta merah..
Kau tumpuk lagi dengan tinta merah.. lagi
Begitu berdarah untuk sebuah hati nan hormat dan indah..

Cukup sayang,
Aku lelah denganmu,
Dengan cinta palsu
Dengan pengakuan yang menelantarkan hatiku
Kau tulis perlahan kata-kata tuk sakiti ku..
Itukah kamu..
Begitu tega dengan semua yang telah berlalu..

Tahun lalu..

: terinspirasi oleh seorang teman di Sehati
:14-12-2011

Puisi Galau : Hilang


Berlari dirimu..
Mungkin berjalan lamban
Atau merangkak lemah
Tuk jauhiku..

Embun rerumputan kian dingin
Menatap aku duduk di hijau daun
Terdiam, termenung
Tanpamu.. Sayang

Sejenak ku memutar memori
Kenapa kau berubah kembali
Ataukah kau hanya mengujiku lagi
Tuk buktikan kesanggupan hati

Kata-kata itukah..
Sajak dari aluan hati sang bintang
Itukah asal kau jauh
Lagi..

Sesalku telah habis
Air mata tak terpancar lagi
Semuanya untukmu
Senang hati tanpa sedih...
Tutupi rasa untuk senyummu..

: terinspirasi ketika saya duduk di pojok kelas
: Rabu, November 2011

Semak Belukar


Tak seindah..
Kemarin, waktu lalu
Yang telah pergi
Dalam ingatan sanubari
Indahku...
Hijau datanglah temani aku
Dalam alunan alam dan buatan
Terselubung rindu hampa kesusahan
Tersenyum, menerka di semak belukar

Menerawang lagi..

: terinspirasi oleh daun ketika ujian
: 10-12-11

Bertahan


Saat kudengar
Sebuah pesan dari gubuk luar
Dari teman pembuat kesal
Yang menatap suatu hal

Ku gelisah...
Menahan air mata basah
Ku tahan rasa bersalah
Karena dia ditimpa masalah

Hancur lebur hubungan ini
Runtuh sudah hati ini
Rasa bersalah masih menyelimuti
Pada teman yang ku sayangi

Apa gerangan yang terjadi
Aku tak mengerti sama sekali
Dia tak lagi bahagia
Apa karena aku disisinya

Apa yang harus kulakukan
Apakah dia harus kulupakan
Ya Tuhan...
Berilah petunjuk untuk hamba-Mu yang bertahan

: 2010

Antara Fakta dan Mimpi


Sepi menyelimuti lagi
Diriku yang menanti bel sekolah

Perlahan lelah..
Memandang jarum jam
Tik tik tik
Tak tentu..

Perlahan letih
Mengolah kata hati sedemikian rupa
Tak kunjung indah jua
Pikiran melayang-layang
Tembus pengelihatan mimpi tadi
... ... ...
Danau luas nan indah
Rerumputan serasa menyapa
Diriku, Kamu, dan Dirinya
Syahdu.. Dalam balutan kalbu

Ah... Ku terjatuh lagi
Tak lagi dia bersama kita
Senyummu memudar
Aku takut...
“Tolong...” teriakku memecah hening
Mengusap peluh di kelopak matamu

: Terinspirasi oleh mimpiku hari Minggu saat ujian
: 13-12-11

Selasa, 08 November 2011

Puisi Perjuangan : Di Balik Seruan Pahlawan


Kabut,
Dalam kenangan pergolakan bumi pertiwi
Mendung,
Pertandakah hujan deras
Membanjiri asa yang haus kemerdekaan
Dia dan semua yang ada menunggu keputusan sakral

Serbu.... Merdeka atau mati.. Allahu Akbar
Titahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa
Dalam serbuan bambu runcing menyatu
Kau teruskan bunyi-bunyi ayat suci
Kau teriakan semangat juang demi negeri
Kau relakan terkasih menahan terpaan belati
Untuk negeri..

Kini kau lihat,
Merah hitam tanah kelahiranmu
Pertumpahan darah para penjajah keji
Gemelutmu tak kunjung sia
Lindungan-Nya selalu dihatimu
Untuk kemerdekaan Indonesia abadi..



Rabu, 28 September 2011

Puisi Deskripsi : Sang Preman

Sang preman
Yang jahat dan nakal
Meringkus insan tak berdosa
Merampas mainan anak tak ternoda

Disebuah warung dekil
Ia Makan dengan lahapnya
Tak peduli seorang tua keriput
Meminta sesuap sedekah darinya

Di suatu kala..
Tersandar sebuah novel dihadapnya
Laskar Pelangi mulai merekah
Sampulnya penuh kenangan tak terduga

Preman itu takjub
Preman telah tanduk
Selangkah Ia maju
Sekedip mata Ia melihat

Preman itu membaca novel
Terhirau sampul penuh cerita
Semua insan terheran-heran
Melihat Sang Preman tunduk membaca buku

Sahabat Kebersamaan


Kebersamaan akan selalu terukir walau waktu terus bergulir
Kenangan itu bukan untuk di lupakan atau di benci
Dikenang, itulah intinya
Sakit yang terjadi, merupakan pembelajaran untuk menjadi yang lebih baik
Kebencian sering terjadi, tapi kepedulian hati kecil tetap tumbuh seiring senyuman indah

Sekalipun pernah saling menyakiti,
Aku dan Kamu pernah menjadi Kita
Kita yang mengukir kenangan indah dan 'kelam'
Hanya ada satu cinta, Cinta pada Tuhan Yang Mahaesa

Puisi Sejarah : Lawang Sewu

Sebuah gedung tua
Tiada satupun insan terlihat
Tak sepatah kata terdengar
Daun-daun berguguran
Membuat lusuh halaman sang jeruji

Di sanalah pemberhentian kesuma kita
Di jeruji bawah bumi pertiwi

Dalam kelam dan sempit
Mereka bertahan hidup
Mereka berjuang demi nusantara

Rela berkorban jiwa dan raga
Walaupun tersiksa hati dan raga
Mereka setia pada Merah Putih
Tetap semangat merebut Indonesia
Masih berkobar niat mereka

Apakah mereka bersalah?
Atau penjajah sunggulah hina
Keji terhadap kesuma bangsa
Membunuh insan tak berdosa

Gedung itu merekam janji
Gedung itu merupakan saksi
Perjuang tanpa henti kesuma bangsa
Demi kemerdekaan Indonesia


Sabtu, 20 Agustus 2011

Puisi Cinta Sederhana : Hujan Tak Kunjung Henti

Hari-hari berlalu
Tanpa senyuman berseri
Tanpa kehadiran  pelangi
Hanya hujan yang tak kunjung henti

Siapakah aku ini??
Semakin ku tak mengerti
Hati menahan perih
Oleh tajamnya belati putih

Ku tahu kau bukanlah milikku
Ku bukan yang terindah dihatimu
Tapi ku ingin ………….
Suatu harapan dari jiwaku

Aku ingin …..
Kau bahagia bersamanya selalu
Jangan lupakan harapanku
Karena ini menjadi raungan hatiku :D

Puisi Sedih

Ketika kejanggalan menerpa
Ku akan tetap di sisinya
Tapi entah mengapa
Rasa bersalah meruntuhkan jiwa

Ku coba lupakan DyHA
Yang masih menaungi jiwa
Ku coba penuh tenaga
Tak sedikitpun ku lupa dirinya

Hari - hari sepi
Tiada nada yang berdering di hati
Tiada lagi suara lembutnya
Yang biasa masuk ke jiwa

Ku sangatlah bersedih
Apakah aku benar bersalah
Air mata tak tertahan
Untuk DyHA yang ku dambakan